Rabu, 14 September 2011

Cerpen Q " Berikan Aku Kesempata"


Berikan Aku Kesempatan
Riandita Aditya  Putra Wardana adalah nama dari seorang anak orang terpandang di Surabaya. Aditya merupakan anak tunggal dari keluarga Wardana, yang sudah pasti semua yang ia inginkan akan terpenuhi. Itu yang menjadikan dia memiliki sifat yang sombong dan angkuh. Sedangkan Nianda Zilvia Pratiwi adalah anak dari seorang yang tidak punya  bahkan sangat susah, keluarga ini sangat memprihatinkan, ibunya adalah  pedagang kue keliling sedangkan ayahnya adalah seorang buruh pabrik yang sangat memungkinkan kapan saja bisa terkena PHK. Jangankan untuk biaya sekolah atau beli buku, untuk makan saja keluarga ini sangatlah paspasan. Tapi zilvia panggilan akrab gadis itu  adalah seorang anak yang pandai, yang pernah mendapat juara olimpiade ekonomi tingkat provinsi, sehingga ia mendapat biasiswa di sekolahnya hal itu yang membuat orang tuanya senang , karena beban mereka tidak bertambah berat dengan biaya sekolah zilvia.
                Keesokan harinya di sekolah berjalan seperti biasa, begitu pula dengan zilvia. Dia berangkat kesekolah dengan mengendarai sepeda yang ia miliki sejak ia duduk di kelas 1 SMP. Setiap hari zilvia berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali, karena jarak rumahnya ke sekolah lumayan jauh, sedangkann ia harus mengayuh sepedanya ke sekolah. Sesampainya di sekolah ia menuju ke kantin untuk menitipkan kue buatan ibunya untuk di jual di sana. Di sekolah itu zilvia tidak punya teman, ia hanya berteman dengan anak-anak yang hobinya membaca buku atau lebih dikenal dengan anak kutu buku. Ia juga sering membantu ibu kantin sehingga ibu kantinpun sangat menyayangi  zilvia seperti anaknya sendiri.
Hal itu sangat berbanding terbalik dengan Aditya, dia yang dikelilingi oleh kemewahan juga dikelilingi banyak teman di sekolahnya, temanyapun juga dari golongan keluarga terpandang. Pagi itu di sekolah bel tanda istirahatpun berbunyi, seperti biasanya zilvia bersama rina teman sebangkunya pergi ke perpus untuk mencari bahan buat presentasi besok, setelah itu mereka pergi ke kantin untuk membantu ibu kantin berjualan. Dan pada waktu yang sama Aditya bersama teman-temannya sedang nongkrong di kantin sambil ngebahas tentang lomba band yang akan diadakan tahun ini. Saat itu zilvia sedang membawa makanan dan minuman ke meja Aditya , tapi setibanya di meja Aditya, tidak sengaja zilvia menumpahkan makanan dan minuman yang dibawanya.
“ Sreekk!!!!” suara kaki nando yang direntangkan .
“Duk……bruukk……byuurr…..prankk…….!!!!” suara zilvia terjatuh dan minuman yang tumpah serta piring-piring yang pecah.
“ Anjriit……… lho punya mata nggak sih…..? Dasar cewek miskin!!!!” Maki Aditya.
“ Ma….maaf… sungguh saya tidak tahu kalau di situ ada kaki. Sungguh saya minta maaf!! Sini saya bersihkan…!!!!” kata zilvia penuh rasa bersalah.
“ Cukup, don’t touch me…. Okey…!!!! Asal lho tahu jaket ini gue beli di italy, apa lho bisa ngegantiin jaket gue….?? Haah ……mana mungkin, sampai kiamatpun lho nggak akan pernah bisa ganti jaket gue…!!”
Zilvia yang dimaki-maki oleh Aditya pun hanya bisa diam menunduk karena ia sadar apa yang dikatakan aditya itu memang benar.
“ Sekali lagi saya minta maaf, saya benar-benar tidak sengaja.” kata zilvia merasa bersalah.
“ Oke, lho akan gue maafin. Tapi, Ada syaratnya…!! Dan lho harus setuju.” kata aditya.
“ Syarat, syarat apa itu….???” tanya zilvia.
“ Lho harus jadi kacung gue selama 1 bulan….!!!”
“ Apaaaaa…..???? Kacung ……???”
“ Iya…….. Lho harus ngelakuin apapun yang gue suruh, kalau tidak, dengan terpaksa lho harus ngegantiin jaket gue…!!!”
“ Baik, jika memang itu syaratnya, saya akan nurutin semua perkataanmu, tapi bagaimana kalau 2 minggu saja.” kata zilvia.
“ Oke bisa diatur, mulai besok lho sudah harus jadi kacung gue…!!!” kata aditya.
****
Setelah kejadian itu zilvia benar – benar jadi kacung alias pembantu aditya. Dia ngelakuin apa saja yang disuruh aditya mulai dari ngerjain pr, bawain tasnya, ambilin ini itu, beliin makanan dan minuman, serta masih banyak lagi. Bahkan zilviapun sering dikerjain oleh aditya dan teman-temannya. Suatu ketika,
“ Eh babu ( panggilan untuk zilvia) ..... ambilin baju gue di kamar mandi…..!!!” bentak aditya.
“ Tapikan dit….., itukan kamar mandi cowok, sedangkan akukan ………” belum selesai perkataan zilvia adityapun langsung memotongnya.
“ Alah gak usah pakek alesan… cepet ambilin baju gue….!!!!” bentak aditya.
“ Iii…iiya…. akan kuambil.” kata zilvia yang lekas berlari.
Setibanya di kamar mandi, zilviapun langsung masuk dan cepat-cepat mengambil baju aditya yang digantung di kamar mandi. Tanpa sadar tiba-tiba pintu kamar mandipun tertutup.
“ Brruuukkk….!!!” suara pintu kamar mandi yang tertutup.
“ Eh….. Duk…duk…duk….!!! Helloo….. Siapa di luar…??? Bukain pintunya dong…!!! Hellooo…..ooo…….” teriak zilvia.
“ Ha..ha…ha… biar tau rasa babu itu..!!!” kata teman-teman aditya.
“ Tolong….tolong…!!! Siapa saja di luar tolong bukain pintu dong…..!!!! Duk…duk…duk!! Bukain pintunya…!!!” teriak zilvia. Tiba-tiba,
“ Zuuurrr….!!!” suara air yang keluar dari selang yang dijulurkan di atas pintu kamar mandi, sehingga zilviapun basah kuyup terkena air itu.
“ Aaaaa……. Tolong ……tolong bukain pintu….!!! tolong… tolong….! Teriak zilvia yang kesekian kali , tetapi tetap saja tak ada yang mau menolong untuk bukain pintu.
“Zzzzzrrrrr…..!!!Too…ttollooong…..zzzzz…!!” kata zilvia sambil menggigil kedinginan.
*****
Keesokan harinya dii sekolah mang maman, penjaga sekolah seperti biasa sedang membersihkan toilet. Ketika mang maman melihat ada genangan air di salah satu toilet, iapun membuka pintunya. Dan betapa kagetnya ia ketikka melihat zilvia yang tergeletak pingsan di dalam toilet dalam keadaan basah kuyup dengan wajah dan bibir yang tampak pucat pasi.
“ Astaghfirullah hal’adhim…… neng via (begitu ia memanggil zilvia)……” kata mang maman yang langsung menggendong zilvia dan mengantarnya pulang. Sesampainya di rumah ,ibu zilvia yang sejak kemarin khawatir dengan anaknya yang tak kunjung pulangpun langsung memeluk erat putrinya, sambil menangis tersedu-sedu.
“ Via….. Anakku kamu kenapa sayang……??? Via….via…bangun nak……, Ya Alloh tolong, jangan sampai ada apa-apa dengan putriku ya Alloh.” kata ibu zilvia sambil menangis dan berdo’a.
Zilviapun langsung dibawa ke puskesmas. Sesampainya di puskesmas zilvia langsung diperiksa oleh dokter. Karena keadaa zilvia yang masih sangat lemah dokterpun menyarankan agar zilvia dirawat inap.
Kedua orang tua zilviapun langsung terduduk lemas mendengar hal itu, bagaimana tidak , untuk makan sehari-hari keluarga ini sangatlah pas-pasan apalagi sekarang harus membayar uang perawatan zilvia yang tentu tidak murah bagi mereka, dengan sangat terpaksa kedua orang tua zilvia memutuskan untuk merawat zilvia di rumah saja, karena mereka tidak punya biaya.
****
Zilvia tidak masuk sekolah selama 2 hari. Dan hari ini adalah hari pertama zilvia masuk sekolah lagi, walaupun keadaan zilvia belum sembuh betul tetapi zilvia harus kembali sekolah karena ia tidak mau ketinggalan pelajaran, apalagi sebentar lagi ia akan menghadapi ualangan akhir semester. Setibanya zilvia di sekolah, zilviapun langsung menuju ruang kelasnya yang di sana sudah menunggu aditya. Begitu zilvia berjalan,
“ Duk, bruukk….. Aduh …..” rintih zilvia yang terjatuh karena ulah aldo, teman aditya.
“ Kemana saja lho kemarin? Dasar babu…!!!” tanya aditya dengan tampang sinis.
“ Maaf aditya, kemarin aku sakit, jadi aku gak bisa masuk.” kata zilvia.
“ Alah alesan aja lho, bilang aja kalo lho gak mau jadi babu gue…..”
“ Enggak dit, nggak gitu……..”
“ Alah, udah deh kalau lho memang gak mau jadi babu gue ya udah, tapi lho harus ganti jaket gue yang udah lho rusakin.” kata aditya tanpa perasaan.
“ Tapi dit, bukan gitu maksud aku……..kemarin aku memang bener-bener sakit, aku mohon dit jangan suruh aku gantiin jaket kamu, aku mau kok jadi babu kamu, please ku mohon….. Aku nggak punya uang kalau harus gantiin jaket kamu…!” kata zilvia memohon pada aditya.
“ Oke, lho boleh jadi babu gue lagi asalkan lho mau memohon sambil berlutut di depan gue dan anak-anak yang lain, itupun kalau lho mau, kalau enggak juga gak papa tapi lho tau kan apa yang harus lho lakuin? Gimana …???” kata aditya.
“ Baik akan ku lakukan jika memang itu syaratnya.” kata zilvia.
zilviapun dengan perlahan berlutut di depan aditya dan memohon padanya. Betapa sedihnya zilvia saat itu, ia merasa harga dirinya telah diinjak-injak oleh seseorang, tapi harus bagaimana lagi ia tak bisa melakukan apa-apa.
Setelah itu zilviapun berdiri dan langsung pergi dari tempat itu. Diapun masuk ke toilet, di sana ia menangis tersedu ia tak tahu harus bagaimana lagi, dia nggak tahu kenapa mereka selalu berbuat jahat padanya, padahal zilvia tak pernah jahat sama mereka. Zilviapun terus menangis, ingin sekali rasanya dia mengakhiri semua ini tapi ia sadar , ia masih punya kedua orang tua yang sayang kepadanya, serta kedua adiknya yang pasti masih membutuhkannya. Andai saja mereka tahu apa yang dihadapi zilvia dan andai saja mereka bisa merasakan apa yang dialami zilvia, mungki mereka tak akan pernah bisa berbuat seperti itu. Tapi itu tidak akan pernah mereka rasakan, mereka yang selalu tergantung pada kekayaan orang tuanya tak akan bisa melihat jauh keluar dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Zilviapun menghapus air matanya yang terus membasahi pipinya, dan keluar dari kamar mandi.
“ Eh babu, sini lho…!!” seru aditya.
“ Iya ada apa dit?” tanya zilvia.
“ Ikut gue!” suruh aditya.
Zilviapun langsung mengikuti kemana aditya pergi. Ternyata aditya menyuruh zilvia untuk ikut dia kelapangan basket karena ia mau main basket, aditya menyuruh zilvia untuk ngambilin bola basket yang berserakan di sana. Zilvia yang saat itu belum sembuh betul tetap menuruti perkataan aditya. Tapi tiba-tiba,
“ Bruukkk!” suara zilvia yang terjatuh pingsan.
“ Ada apa….?” tanya aditya dan teman-temannya bingung.
“ Zilvia……!!!!!” teriak mereka kaget melihat zilvia yang jatuh pingsan.
merekapun langsung membawa zilvia ke UKS untuk diperiksa. Tapi kelihatannya sakit zilviapun cukup serius sehingga pihak sekolah memutuskan untuk membawa zilvia ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit zilviapun langsung diperiksa oleh dokter.
Aditya pun ikut ke rumah sakit karena ia merasa ini adalah tanggung jawabnya. Setelah dokter keluar dari ruangan, dokter itu bilang,
“ Mana keluarganya?” tanya dokter itu.
“ Keluarganya belum datang dok, mungkin sebentar lagi, memangnya ada apa dokter?” tanya Bu Susi, wali kelas zilvia.
“ Ibu bisa ikut saya sebentar.” kata dokter,.
Bu susipun pergi dengan dokter itu, karena penasaran akan apa yang mau dikatakan oleh dokter itu adityapun mengikuti bu susi. Setibanya di ruang dokter itu aditya mendengarkan pembicaraan mereka. Betapa kagetnya adit ketika ia mengetahui kalau zilvia menderita leokimia stadium 4.
“ Apa….. LEOKIMIA….???” kata aditya tak percaya.
Batapa kagetnya ia dan rasa bersalah yang sangat besar menghantui dirinya ia merasa sangat bersalah pada zilvia atas apa yang selama ini pernah ia lakukan terhadapnya. Iapun kembali ke ruangan di mana zilvia dirawat.
“ Zilvia………, maafin aku……. Aku nggak tahu harus berbuat apa. Aku ini orang yang sangat bodoh, bodoh sekali, bahkan aku nggak pantas disebut seorang manusia, aku orang yang nggak punya perasaan, teganya aku berbuat seperti itu padamu. Zilvia please, kumohon sadarlah , berikan aku kesempatan untuk menebus emua kesalahanku. Kesalahan dan kebodohan yang selama ini aku lakukan. Zilvia…. Maafin aku……!!!” kata aditya yang merasa sangat bersalah.
“ Zilvia..!!!!” teriak ibunya , yang histeris ketika ia mengetahui keadaan putri kesayangannya.
Aditya yang merasa bersalah, ia nggak bisa berada di dalam ruangan zilvia yang dipenuhi oleh isak tangis keluarga zilvia. Aditya sungguh merasa sangat-sangat bersalah pada zilvia dan keluarganya, ia merasa zilvia bisa seperti ini adalah gara-gara dia. Adityapun memohon pada tuhan.
“ Ya Alloh, jika bisa ku mohon, janganlah kau biarkan zilvia seperti ini, dia adalah gadis yang baik bahkan sangat baik, dia nggak pantas menerima semua ini. Biarlah aku saja, biarkan aku yang menggantikannya, asalkan ia bisa sembuh dan kembali ceria seperti biasa. Aku rela ya Alloh, karena aku tahu aku memang pantas menerima semua ini.” Kata aditya.
****
Sudah dua hari zilvia di rumah sakit. Dan hari ini aditya memutuskan untuk menegok zilvia sekaligus ia ingin minta maaf padanya. Setibanya di rumah sakit iapun langsung menemui zilvia.
“ Tok..tok…tok.. Assalamu’alaikum…”
“ Wa’alaikum salam, eh nak aditya, masuk nak.” kata ibu zilvia dengan lembut.
“ Ia bu. Zilvia kamu sudah sadar?” kata aditya.
“ Iya aku sudah merasa agak baikan.” kata zilvia dengan santai.
Ibunya yang mendengar hal itupun tak kuasa menahan air matanya dan langsung pergi dari ruangan zilvia.
“ Zilvia , maafin aku, aku sudah buat kamu kayak gini. Seharusnya aku yang harus ada di situ, bukan kamu, karena aku yang telah nyebapin semua ini.”
“ Sudahlah dit semua ini bukan kesalahanmu, ini semua adalah kehendak Alloh.”
“ Tapi vi, andai saja aku percaya sama kamu dan nggak ngelakuin semua itu, kamu nggak akan kayak gini. Please maafin aku, ijinin aku untuk nglakuin sesuatu buat kamu. Aku akan ngelakuin apa saja yang kamu inginkan.”
Viapun tak bisa menolak permintaan aditya. Ternyata aditya sungguh-sungguh dengan ucapannya. Ia rela nglakuin apa saja untuk zilvia. Setiap pulang sekolah ia selalu pergi kerumah sakit untuk nemenin zilvia, ia ingin setiap saat bisa bersama zilvia. Sudah 2 minggu zilvia dirawat di rumah sakit. Pada saat zilvia sedang asyik bercanda dengan aditya tiba-tiba zilvia mengejang, adityapun kaget dan langsung memanggil dokter. Dokterpun segera tiba dan memeriksa zilvia
Aditya bersama keluarga zilvia menunggu di luar dengan perasaan sedih, deg-degan dan takut akan kehilangan zilvia. Beberapa saat kemudian dokterpun keluar dari ruang ICU.
“ Dokter bagaimana keadaan putri saya? Dia tidak apa-apakan dok?” tanya ibu zilvia penuh kecemasan.
“ Sebaiknya saat ini keluarga memanfaatkan waktu yang sedikit ini dengan zilvia, buat dia merasa senang di saat-saat terakhirnya.”
Betapa hancurnya hati ibu zilvia ketika dokter mengatakan hal itu. Kenyataan bahwa umur zilvia tinggal sebentar lagi. Setelah itu aditya dan keluarga zilviapun menemui zilvia. Melihat keadaannya yang seperti ini membuat aditya tak kuasa menahan air matanya. Ibu zilviapun meminta aditya untuk menemani zilvia di saat-saat terakhirnya.
“ Zilvia, bagaimana perasaanmu?” kata aditya sambil berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh.
“Tidak pernah sebaik ini sebelumnya.” kata zilvia yang diiringi dengan senyum.
Tak ada satu orangpun di ruangan itu yang tidak meneteskan air mata ketika mendengar ucapan zilvia, begitupun dengan aditya. Zilvia yang mengetahui seseorang yang dia cintai meneteskan air mata untuk dirinya. Berusaha menggerakkan tangannya untuk menyeka air mata aditya.
“ Adit, jangan. Jangan menangis, aku nggak ingin melihat kamu menangis di saat terakhirku ini. Aku ingin melihat kamu tersenyum. Please lakuin itu untuk ku. Aku ingin melihat senyummu itu untuk yang terakhirkalinya. Kumohon.” kata zilvia dengan berusaha tenang.
“ Zilvia……” Adityapun menuruti permintaan terakhir zilvia, yaitu melihatnya tersenyum.
“ Trimakasih adit atas apa yang telah kamu lakukan untukku selama ini, dan aku minta maaf kalau aku tidak bisa mengganti jaketmu yang telah ku rusak. Maafin aku......Ahk…ahk…ahk…hhh!”
“ Zilvia, zilviaaaa………………..” teriak semua orang yang ada di ruangan itu. Dan tangispun keluar di ruangan itu, mengiringi kepergian zilvia untuk selamanya. Begitupula dengan aditya yang tak tahu harus berbuat apa, dan hanya kata-kata inilah yang ia ucapkan.
“ Maafkan aku zilvia. Dan trimakasih karena kamu sudah memberikan kesempatan untuk aku bisa menebus kesalahanku. Sakali lagi trimakasih zilvia. Aku sayang kamu. I love you.”
***Selesai***

0 komentar:

Posting Komentar